Senin, 14 November 2011

LANDASAN EKONOMI DALAM PENDIDIKAN GLOBAL

Oleh Rully Aprilia Zandra *)
Guru Yayasan Pendidikan Bhakti Wanita Islam

Abstract
In United States the defrayal of public school come from local government, state in a federal system (primary source for repairing the public education), and federal government where from the third of them obtained through tax. Remember the activity of education is defrayed from tax, hence of taxes payers will influence how and to what the moneys are applied in activity of educations. Thereby solution concerning economics is not only concerning the wealthy, but everybody, including people make a move in education world and education world which elaborate it. Economics globalization knocking over world, automatically influence most of all state in world, including Indonesia in order not to be convolute and dashed down by waving world economic globalization. Based on review at research of book hence is inferential as follows: (1) Economic of education hold important enough role, although not be the most important factor, in succeeding education mission, (2) Education economics function is as supporter of fluency of education process and as a Iesson matter for forming economic man, (3) Education source of fund besides governmental and public, education institute still can have another source as many as possible, (4) Education fund require to be managed professionally, in general with SP4, and will be justify with purchasing evidence validating.
Key Word: Economic base, Global education


Pendahuluan
Kegiatan pendidikan di Amerika Serikat merupakan suatu usaha besar-besaran. Hal tersebut tercermin pada anggaran belanja pendidikannya yang sangat besar (berbeda dengan Indonesia yang hanya menganggarkan sedikit saja APBN nya untuk pos pendidikan). Di Amerika Serikat pembiayaan public school berasal dari pemerintah lokal, pemerintah negara bagian (sumber utama untuk memperbaiki public education), dan pemerintah federal, yang ketiganya diperoleh melalui pajak. Mengingat kegiatan pendidikan dibiayai dari pajak, maka para pembayar pajak akan mempengaruhi bagaimana dan untuk apa saja uang digunakan dalam kegiatan pendidikan. Pembaharuan pendidikan pada public education merupakan hal yang disoroti secara tajam oleh para pembayar pajak dan para peminat pendidikan, di samping pemerintah Amerika Serikat (Dimyati, 1988:71-73).

Pada zaman pasca modern atau globalisasi sekarang ini, yang sebagian besar manusianya cenderung mengutamakan kesejahteraan materi dibanding kesejahteraan rohani, membuat ekonomi mendapat perhatian yang sangat besar. Tidak banyak orang mementingkan peningkatan spiritual. Sebagian terbesar dari mereka ingin hidup enak dalam arti jasmaniah.
Kecenderungan tersebut sangat dipengaruhi o1eh perkembangan budaya, terutama dalam bidang teknologi, kesenian, dan pariwisata. Berbagai produk baru yang semakin canggih ditawarkan, berbagai perlengkapan hidup dengan model dan desain yang semakin menarik dipajang di toko-toko, dan para pemandu wisata secara gencar menarik wisatawan dengan daerah-daerah wisatanya yang menjanjikan kekaguman. Situasi seperti ini membuat orang – orang berusaha mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk memenuhi seleranya.

Selain pemenuhan selera tersebut di atas, manusia pada umumnya tidak bisa bebas dari kebutuhan akan ekonomi. Sebab kebutuhan dasar manusia membutuhkan ekonomi. Ini berarti orang tidak mampu pun memerlukan uang untuk mengisi perutnya dan sekedar berteduh di waktu malam. Dengan demikian pembahasan tentang ekonomi tidak hanya menyangkut orang-orang kaya, melainkan semua orang, termasuk orang dan dunia pendidikan yang ditekuninya.

Peran Ekonomi dalam Pendidikan
Di samping memajukan perekonomian di negeri sendiri, sejumlah negara yang sudah makmur juga memberi bantuan kepada negara – negara berkembang berupa pinjaman lunak atau bantuan khusus. Kerjasama ekonomi yang lain adalah diperbolehkannya suatu negara membentuk usaha atau industri di negara lain dengan bentuk perjanjian tertentu. Bukan hanya negara diizinkan mengadakan kerja sama seperti itu, tetapi juga usaha-usaha swasta. Bentuk kerjasama yang lain adalah diproduksinya komponen - komponen suatu produksi di daerah atau di negara lain. Artinya suatu hasil produksi tidak selalu memakai komponen produksinya sendiri, seringkali memakai sejumlah komponen yang dihasilkan oleh industri lain. Semua ini merupakan wujud dari globalisasi ekonomi.

Pemerintah Indonesia memutuskan tetap mengutamakan pembangunan ekonomi seperti halnya pada Pembangunan Jangka Panjang Tahap Pertama dahulu. Kalau dahulu alasannya ekonomi memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, maka kini di samping alasan itu, juga agar tidak kalah bersaing dalam era g1obalisasi ekonomi ini. Perhatian pemerintah sangat besar dalam bidang ekonomi. Berbagai kebijaksanaan dan peraturan baru di buat. Frekuensi munculnya kebijaksanaan dengan peraturannya ini cukup banyak. Dan jelas berbeda sekali dengan frekuensi munculnya kebijakan dan peraturan-peraturan baru di bidang lain.

Akibat pengutamaan pembangunan di bidang ekonomi adalah munculnya berbagai usaha baru, pabrik-pabrik baru, industri-industri baru, badan-badan perdagangan baru, dan badan-badan jasa yang baru pula. Jumlah konglomerat bertambah banyak, walaupun orang-orang miskin masih tetap ada. Pertumbuhan ekonomi menjadi tinggi, dan penghasilan negara bertambah, walaupun hutang luar negeri cukup besar dan penghasilan rakyat kecil masih minim.

Perkembangan ekonomi makro berpengaruh pula dalam bidang pendidikan. Cukup banyak orang kaya sudah mau secara sukarela menjadi bapak angkat agar anak-anak dari orang tidak mampu bersekolah, terlepas dari apakah karena dorongan hati sendiri atau berkat himbauan pemerintah yang tidak pemah berhenti. Sikap dan tindakan seperti ini sangat terpuji, bukan hanya karena bersifat perikemanusiaan, melainkan juga dalam upaya membantu menyukseskan wajib belajar 9 tahun. Mereka telah menyisihkan sebagian dari rejekinya untuk beramal bagi yang memerlukan. Tindakan seperti ini patut dicontoh oleh mereka yang kaya tetapi belum menjadi bapak angkat.

Perkembangan lain yang menggembirakan di bidang pendidikan adalah terlaksananya sistem ganda dalam pendidikan. Siatem ini bisa berlangsung pada sejumlah lembaga pendidikan, yaitu kerjasama antara sekolah dengan pihak usahawan dalam proses belajar mengajar para siswa, adalah berkat kesadaran para pemimpin perusahaan atau industri akan pentingnya pendidikan. Kesadaran inipun muncul sebagian karena usaha mereka berhasil dan memberi keuntungan lebih banyak.

Tampaknya mereka sudah mulai sadar bahwa sebagai seorang pengusaha, lebih-lebih yang berhasil, mempunyai kewajiban untuk memberi di samping menerima dari dunia pendidikan. Mereka sudah merasa bahwa tindakan menerima lulusan saja dari lembaga pendidikan adalah keliru. Sebagai pemakai lulusan mereka patut menyumbang kepada pendidikan ini. Sumbangan yang paling berarti bagi pendidikan adalah ikut menangani proses pendidikan itu sendiri dalam batas-batas kemampuan mereka masing-masing. Seperti diketahui, sistem ganda ini diadakan dalam rangka mengembangkan keterampilan para siswa. Pengembangan ini membutuhkan alat-alat belajar yang cukup banyak jumlah dan jenisnya. Sementara itu sebagian sebesar sekolah tidak memilikinya, yang merupakan salah satu hambatan utama bagi sekolah. Berkat uluran tangan para pengusaha, maka secara pelan-pelan alat-alat belajar ini bisa dipenuhi. Dalam sistem ini para siswa belajar di dua tempat yaitu di sekolah dan perusahaan.

Dampak lain dari keberhasilan pembangunan ekonomi secara makro adalah munculnya sejumlah sekolah unggul. Sekolah-sekolah ini didirikan oleh orang-orang kaya atau konglomerat atau kumpulan dari mereka, yang bertebaran di seluruh Indonesia. Sudah tentu kondisi sekolah seperti ini tentu dengan sekolah-sekolah pada umum. Sekolah ini lebih unggul dalam prasarana dan sarana pendidikan, lebih unggul dalam menggaji pendidik-pendidiknya. Program belajarnya lebih beragam atau lebih kaya dan mungkin proses belajarnya juga lebih baik. Hanya produksinya atau lulusannya belum dapat dikomentari sebab sekolah-sekolah itu baru mulai berdiri.

Pendapat masyarakat tentang sekolah unggul ini ada yang pro dan ada pula yang kontra. Hal seperti itu memang bisa terjadi terhadap sesuatu yang baru mulai berdiri. Sesungguhnya ditinjau dari niat baik para konglomerat atau orang kaya untuk mendirikan sekolah sudah merupakan keuntungan bagi dunia pendidikan di Indonesia. Mengapa demikian? Karena bantuan dana dan mereka terhadap lembaga-lembaga pendidikan yang sudah ada belum tampak secara berarti. Dengan mendirikan sekolah tersendiri, menunjukkan kepada kita bahwa sebagian dari penghasilan mereka sudah disumbangkan dalam wujud persekolahan. Memang sudah waktunya mereka menaruh perhatian kepada pendidikan, sebagai balas jasa terhadap republik, tempat mereka berusaha dan menjadi kaya. Diharapkan makin lama makin banyak sekolah unggul didirikan. Sehingga kelak tiba waktunya sekolah-seklah swasta akan lebih tinggi mutunya dari pada sekolah-sekolah negeri, seperti halnya dengan di negeri - negeri maju., Hal ini memang wajar sebab dana pendidikan dari pemerintah sangat terbatas.

Sekolah-sekolah unggul ini tetap diterima oleh negara maupun masyarakat, selama ia mengikuti atau tunduk kepada undang-undang. atau aturan pemerintah tentang pendidikan dan tidak menanamkan kebudayaan asing yang tidak cocok dengan kebudayaan Indonesia.
Walaupun kebijakan dan program sekolah ini tidak sama satu dengan yang lain, diharapkan mereka tidak pilih kasih menerima calon siswa. Artinya setiap calon dari manapun asalnya hendaklah diberi kesempatan yang sama asal mereka mampu membayar. Begitu pula proses belajar mengajar hendaklah lebih baik daripada seko1ah - sekolah pada umumnya, sehingga ia patut menjadi contoh ba sekolah-sekolah lain. Dan yang paling penting bisa menghasilkan lulusan yang bermutu serta tidak menyimpang dari tujuan pendidikan nasional kita.

Sesudah membicarakan peran ekonomi secara makro, maka ada baiknya bila pembicaraan ini diteruskan dengan peran ekonomi secara mikro dalam kehidupan. Pada umumnya orang mengatakan kehidupan seseorang meningkat atau menurun selalu dikaitkan dengan perekonomian orang tersebut. Meningkat atau menurunnya kehidupan dimulai dari rumah yang dimiliki, jenis kendaraan yang dipakai, perhiasan atau macam pakaian yang biasa dipakai, menu makanan Sehari - hari, dan gaya hidup. Jarang sekali orang mengaitkan naik turunnya kehidupan dengan tingkat kedamaian hati, kebahagiaan keluarga, kejujuran, atau kesucian hidup seseorang. Pada hal kondisi manusia juga merupakan suatu kehidupan.

Dari penjelasan di atas dapat dipahami bahwa ekonomi itu memegang peeranan yang penting dalam kehidupan seseorang, walaupun orang itu sudah menyadari bahwa kehidupan yang gemerlapan tidak menghasilkan menjamin akan memberi kebahagiaan. Mereka pada umumnya seperti tidak punya kemampuan untuk menahan diri dari kemauan untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Mereka bergelut untuk bisa meraih tingkat ekonomi yang lebih tinggi.
Persekolahan di Indonesia sebagian besar masih lemah ekonominya. Memang hampir semuanya sudah punya gedung, walaupun tidak megah, tetapi perlengkapan belajarnya masih minim. Juga kesejahteraan guru dan dosennya belum memadai. Lebih-lebih bagi guru di SD, keadaannya sangat menyedihkan sehingga sebagian terbesar dari mereka terpaksa mencari sambilan di luar untuk menutupi ekonominya. Hal ini bisa terjadi karena keterbatasan dana dari pemerintah maupun dari yayasan.

Walaupun tiap keluarga berusaha meningkatkan perekonomian, namun mereka tidak selalu berhasil, sebab keberhasilan itu ditentukan oleh banyak faktor. Akibatnya masih banyak keluarga yang di bawah garis kemiskinan. Dan bila secara kebetulan mereka diam paada lokasi yang sama, maka terjadilah suatu desa miskin. Desa-desa seperti ini masih cukup banyak jumlahnya di Indonesia.

Kemiskinan ini berdampak jelas pada pendidikan khususnya pembelajaran. Peserta didik dari keluarga kurang mampu umumnya tidak dapat menerima pembelajaran yang optimal. Selain waktu mereka banyak disibukkan bekerja membatu okenomi orang tuanya untuk makan dan biaya sekolah, media pembelajaranpun banyak yang tak terbeli sehingga pembelajaran di sekolah tidak bisa berjalan optimal seperti peserta didik yang mampu membeli buku.

Demikian pula di daerah terpencil terdapat satu masalah lagi yakni kurang tersedianya tenaga pengajar, lebih lebih tenaga pengajar yang baik mutunya. Hal ini dikarenakan para guru, lebih lebih yang punya kualitas mengajar baik enggan ditempatkan atau mengabdi di daerah daerah terpencil. Alasannya beragam, selain jarak yang ditempuh setiap harinya sangat jauh, media pembelajaran sangat minim, penghasilan yang didapatpun tidak sebanding dengan pengorbanannya.

Kabar baiknya saat ini pemerintah telah mebaca dan menyikapi masalah ini. Pemerintah memberikan tambahan penghasilan Rp. 1.500.000,- perbulan bagi para tenaga pengajar yang bersedia ditempatkan di daerah terpencil. Secara nyata kebijakan ini memberikan motivasi pada para tenaga pengajar untuk berbondong-bondong memajukan pendidikan di daerah. Dengan jumlah tenaga pengajar yang memadai mutu pembelajaran dapat ditingkatkan.
Sertifikasi guru dan dana BOS, merupakan berita menggembirakan berikutnya bagi peningkatan mutu pembelajaran pada pendidikan di Indonesia. Selain peningkatan kesejahteraan guru, bidikan pemerintah dalam sertifikasi adalah peningkatan mutu tenaga pengajar di Indonesia. Dengan mutu tenaga pengajar yang baik serta perekonomian guru yang berlangsung baik diharapkan para tenaga pengajar dapat memberikan pembelajaran yang lebih baik.

Fungsi Produksi Ekonomi dalam Pendidikan
Sebelum membahas fungsi produksi ekonomi, ada baiknya kita bicarakan dulu bagaimana menghitung harga-harga input fungsi produksi.
1. Tentang prasarana dan sarana belajar berlaku ketentuan sebagai barang modal selama 25 tahun. Prasarana dan sarana tersebut sudah dipandang tidak punya harga. Karena bangunan ini makin lama makin tua, maka ia kena aturan depresiasi 1,5% sampai 2% per tahun, artinya harga bangunan itu akan turun setiap tahun sebesar 1,5% atau 2% dari harga awal atau harga sisa. Bila uang yang dipakai membangun adalah uang pinjaman maka bunga yang sesuai dengan aturan bank juga tuna diperhitungkan. Perhitungan-perhitungan seperti ini juga berlaku bagi kendaraan dinas. Mengenai perlengkapan belajar, media, alat-alat peraga, buku-buku, film, disket, dan sebagainya tidak ada ketentuan yang jelas tentang cara menghitung harganya. Namun demikian aturan di atas dapat pula diberlakukan pada barang-barang seperti ini.
2. Perhitungan harga barang-barang habis pakai cukup dilakukan dengan rnenghitung harga pembeliannya.
3. Tentang harga guru dan personalia sekolah lainnya dihitung dengan cara menjumlahkan gaji dan penghasilan penghasilan sah lainnya di sekolah. Hanya untuk guru honorer harganya dihitung berdasarkan waktu mengajarnya.

Sekarang kita teruskan dengan fungsi produksi yang ketiga yaitu fungsi produksi ekonomi. Input fungsi produksi ini adalah sebagai berikut :
1. Semua biaya pendidikan seperti pada input fungsi produksi administrator.
2. Semua uang yang dikeluarkan secara pribadi untuk kepeduan pendidikan seperti uang saku, transportasi, membeli buku, alat-alat tulis, dan sebagainya selama masa belajar atau kuliah.
3. Uang yang mungkin diperoleh lewat bekerja selama belajar atau kuliah, tetapi tidak didapat sebab waktu tersebut dipakai untuk belajar atau kuliah. Uang seperti ini disebut opportunity cost.

Sementara itu yang menjadi outputnya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat dan bekerja, manakala orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah. Dan apabila ia belum pernah bekerja yang menjadi output-nya adalah gaji yang diterima setelah tamat dan bekerja.

Fungsi produksi ekonomi di atas dapat dipelajari dan diperhitungkan dengan seksama oleh para pengelola di setiap sekolah untuk merumuskan kurikulum pembelajaran muatan lokal yang seuai dengan kebutuhan lapangan di daerah itu, peningkatan kesejahteraan guru, dan strategi efisiensi dalam pelaksanaan pembelajaran siswa di sekolah itu. Selain dapat gunakan sebagai penunjang kelancaran pembelajaran, fungsi ekonomi dapat pula diberikan sebagai materi pelajaran untuk membentuk manusia ekonomi.

Penutup
Berdasar ulasan – ulasan tersebut dapat disarikan sebagai berikut, (1) Ekonomi pendidikan memegang peran cukup penting, walaupun bukan yang terpenting dalam pembelajaran. (2) Sumber dana pendidikan khususnya proses pembelajaran selain dari pemerintah juga berasal dari masyarakat, lembaga pendidikan, dan masih bisa digali sumber-sumber lain sebanyak mungkin. (3) Fungsi ekonomi merupakan penunjang kelancaran pembelajaran dan sebagai materi pelajaran untuk membentuk manusia ekonomi.


DAFTAR PUSTAKABuchori, Mochtar. 1996. “Menuju Madrasah Unggul.” Transformasi Pendidikan di Indonesia dan Tantangannya di Masa Depan. IKIP Muhammadiyah Jakarta Press: Jakarta.
Carpenter, et al.”The Analysis of Effectiveness” Sue A. Haggart, (editor). Program Budgeting for School District Planning. Educational Technology, New Jersey.
Kotler, Philip and Karen F.A. Fox, 1985, Strategic Marketing for Educational Institutions, Prentice-Hall, Inc. New Jersey.
Levin, Henry M. 1985, Cost-Effectiveness A Primer, Sage Publications, London.
Link and Match, 1993, Panitia Rapat Kerja Nasional, Dep. P dan K, Jakarta.
Made Pidarta. 1988. Manajemen Paguron, hasil penelitian, Laboratorium Administrasi Pendidikan, FIP, IKIP Surabaya, Surabaya.
Mutrofin. 1996. “Pendidikan, Ekonomi, dan SDM Produktif”, Transformasi Pendidikan di Indonesia dan tantangannya di Masa Depan, IKIP Muhammadiyah jakarta Press, Jakarta.
Panduan Rapat Kerja Daerah Perguruan Tinggi negeri Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1996, Biro Perencanaan, SWEkjen, Dep. P dan K, Jakarta.
Sanderson, Stephen K. 1991. Sosiologi Makro. Terjemahan oleh Farid Wajidi & S. Menno. 1993. Jakarta: Rajawali Pers.
Spring, Joel. 1989. American Education. New York: Longman.
Thomas, J. Alan, tt. The Produvtive School, Jhon Wiley dan Sons, Inc. New York.
Thut, I. N. & Adams, Don. 1984. Pola-pola Pendidikan dalam Masyarakat Kontemporer. Terjemahan oleh SPA Teamwork. 2005. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar